Banyak perempuan mengeluh tentang penurunan libido seksual ketika mereka berada di negara menopause. Ini adalah keluhan yang sangat umum di kalangan wanita. Gejala yang paling umum penurunan libido seksual adalah penurunan minat seks, tidak ingin seks kapan saja, vagina yang kering dan menyakitkan hubungan seksual.Selama wanita menopause mengalami banyak perubahan hormon dan ini mungkin mengakibatkan penurunan hormon tertentu seperti estrogen dan progesteron. Tingkat yang jatuh pada hormon-hormon ini dapat menyebabkan tingkat ekstrem suasana hati pada wanita dan juga berdampak pada kehidupan seks mereka. Ini mungkin bahkan menyebabkan disfungsi seksual pada wanita. Post menopause bagi perempuan adalah tahap lebih halus karena proses penuaan. Selama wanita menopause sudah menangani banyak masalah kebohongan mood, kelelahan, depresi dan masalah-masalah psikologis lain. Juga proses penuaan mengubah penampilan mereka dan mereka mulai tampak lebih tua dari sebelumnya yang dapat merugikan bagi kesehatan mental mereka. Proses penuaan mungkin juga menambah depresi mereka.
Selama periode pasca wanita menopause menghadapi negatif terhadap hubungan mereka dan mitra. Salah satu solusi untuk meningkatkan libido seksual selama pasca menopause adalah untuk menggantikan tingkat penurunan estradiol. Ada tersedia oral estrogen yang membantu meningkatkan energi seksual pada wanita dan juga melumasi vagina untuk menghindari rasa sakit selama hubungan seksual. Ada juga krim dan lotion yang tersedia untuk pelumasan bagi perempuan. Menggunakan pelumas selama hubungan seksual ini untuk sementara dapat memecahkan masalah bagi perempuan. Banyak tergantung pada perilaku pasangan selama tahap menopause dan jika ada hubungan yang sehat pada pasangan, maka masalah seperti itu dapat dengan mudah bekerja keluar.
Terapi penggantian hormon (HRT) ditemukan untuk membantu dalam pasca menopause meningkatkan libido. Namun, Anda harus berkonsultasi dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut mengenai hal ini.
Berhubungan seks tak hanya mengandalkan apa yang Anda dan pasangan lakukan di tempat tidur, tapi juga membutuhkan tenaga ‘super’ agar aktivitas ini memuaskan kedua pihak. Coba deh mulai membiasakan diri mengkonsumsi makanan untuk pembangkit libido, seperti yang disarankan askmen.com berikut:
- Seledri; Seledri, sayuran yang kerap kita jumpai sebagai pelengkap hidangan, merupakan sumber makanan yang bisa meningkatkan rangsang seksual karena seledri mengandung senyawa androsteron, hormon tanpa bau yang keluar melalui keringat pria. Hormon ini diyakini bisa membuat wanita terangsang.
- Tiram Mentah; Tiram dikenal sebagi makanan laut yang kaya akan zat besi, yang bisa menaikkan jumlah sperma dan produksi testosteron, selain mengandung dopamine, hormon yang diyakini bisa menaikkan gairah seksual. Cobalah menghisap tiram bersama pasangan sebagai bagian dari foreplay seks anda, saling menyuapi akan membuat permainan seks anda semakin hangat dan erotis. Cuci bersih bagian luarnya (cangkang) untuk menghilangkan bakteri dan kotoran yang menempel. Buka cangkangnya dan taruh dalam di sebuah wadah berisi es batu, jika anda suka anda bisa menambahkan perasan air jeruk lemon.
- Pisang; Pisang mengandung enzim bromelain, yang dipercaya bisa menaikkan dan memperbaiki libido lelaki. Sebagai buah tropis pisang merupakan sumber potassium dan vitamin B seperti riboflavin, yang bisa meningkatkan energi tubuh. Cara menikmati: taruh pisang yang sudah terkelupas sebagian dalam sebuah wadah. Minta pasangan anda memakannya pada bagian ujungnya anda melahapnya di bagian ujung lainnya, just try it.
- Alpukat; Penduduk Aztecs (penduduk asli Nahuati, yang membangun pemerintahan Mexico, sebelum di rebut Cortes pada 1519), menyebut buah apukat sebagi “testicle tree”. Apukat mampu menurunkan risiko stroke dan serangan jantung, karena alpukat merupakan satu-satunya buah yang kaya lemak, bahkan kadarnya lebih dari dua kali kandungan lemak dalam durian. Kemampuan ini diperkuat oleh kandungan betakaroten, klorofil, vitamin E, dan vitamin B-kompleks yang berlimpah dalam alpukat. Tak hanya bagus buat kesehatan tubuh, buah yang menyerupai lekuk tubuh wanita ini juga memiliki esensi yang membantu meningkatkan stamina seks. Kandungan folic acid-nya melancarkan metabolisme protein, dan menaikkan energi tubuh. Penggabungan dua unsur esensial alpukat, vitamin B6 (nutrisi yang membantu menaikkan produksi hormon pria) dan potassium (membantu memperlancar kelenjar thyroid), diyakini bisa meningkatkan libido pria dan wanita.
- Almond; Almond merupakan sumber asam lemak esensial yang kaya akan senyawa yang sangat vital bagi kesehatan hormon reproduksi pria. Aroma yang dikeluarkan almond membantu membangkitkan hasrat wanita. Menyalakan beberapa lilin aroma terapi beramoma almond bisa membantu membangkitkan gairah seksual anda dan pasangan. Anda bisa memakan biji almond langsung tanpa menambahkan garam atau pemanis atau mungkin menaburkan cacahan almond kering sebagai pelengkap salad favorit anda.
- Mangga, peach, strawberri; Mangga, peach, dan strawberri, buah segar kaya vitamin C yang selalu mengundang liur. Tak ada salahnya melibatkan peranan ketiga buah tersebut dalam foreplay bercinta anda. Lumurkan jus campuran ketiga buah tersebut keseluruh tubuh anda dan minta pasangan menjilatinya, bukan hanya saling mengeksplorasi tubuh pasangan namun seks eksotik bakal anda alami.
- Telur; Meskipun telur bukan makanan sensual, telur masih merupakan sumber utama vitamin B6 dan B5 yang membantu meningkatkan tingkat keseimbangan hormon dan memerangi stress, dua hal utama yang penting bagi kesehatan libido. Telur juga dikenal sebagai simbol kesuburan dan kelahiran kembali. Telur ayam mentah (baik telur ayam maupun telur burung) sering dikonsumsi untuk menaikkan energi dan memaksimalkan tingkat energi.
- Hati (liver); Hati merupkan sumber hewani yang kaya akan glutamine — jaringan peningkat sistem kekebalan tubuh — mengkonsumsi hati secara rutin bisa meningkatkan libido yang mulai turun. Pastikan selalu memasukkan hati dalam menu diet harian anda. Anda bisa mengolah hati dan menggorengnya dengan campuran irisan bawang putih, rempah-rempah dan menggorengnya dengan minyak wijen.
- Buah Kurma (buah ara); Buah legit yang sering dijumpai di bulan puasa ini memiliki kandungan asam amino yang dipercaya bisa menaikkan libido dan menaikkan stamina seksual. Bentuk dan aroma manis buah kurma yang masih segar bisa merangsang indra seksual anda dan pasangan.
- Bawang Putih; Salah satu rempah dapur ini memang memiliki sejuta khasiat, meskipun cenderung beraroma menyengat. Bawang putih mengandung allicin yang bisa melancarkan peredaran darah ke organ seksual, selain juga meningkatkan libido. Saat ini banyak ekstrak bawang putih yang dikemas dalam bentuk kapsul di pasaran, so anda dan pasangan tak perlu repot lagi bukan dan coba rasakan khasiatnya.
- Coklat; Coklat makanan sensual yang banyak mengandung theobromine — alkaloid — yang khasiatnya sebanding dengan kafein. Coklat kaya akan phenylethylamine, senyawa kimia yang diyakini bisa menumbuhkan perasaan cinta dan rileks, banyak kalangan selalu mengkonsumsi coklat saat dalam keadaan tertekan. Dark chocolate banyak mengandung anti-oxidants dalam jumlah besar yang sangat berguna bagi sistem kekebalan tubuh. Mengkonsumsi coklat sebelum bercinta bakal membuat seks anda semakin hangat.
Studi terbaru melaporkan bahwa perempuan pasca menopause dengan keinginan seksual hipoaktif akan mengalami perbaikan fungsi seksualnya setelah diberikan testosteron transdermal.
Dr.Susan R.Davis dan kawan-kawan dari Monash University in Prahran, Australia, menyatakan bahwa masih banyak perempuan pasca menopause yang tetap aktif secara seksual, meskipun sering mengalami kekecewaan seksual, atau melakukan aktivitas seksual hanya untuk memuaskan pasangannya, atau untuk mempertahankan keharmonisan rumahtangga.
Meskipun testosteron dibuktikan efektif untuk meningkatkan libido pada perempuan pasca menopause yang sedang mendapat terapi sulih hormon, namun khasiatnya pada perempuan yang tidak mendapat estrogen tidaklah diketahui.
Ada kekhawatiran bahwa testosteron eksogen yang diberikan secara tunggal dapat menghasilkan efek merugikan terhadap kadar lipid, metabolisme glukosa, atau menyebabkan kelainan pada payudara.
Studi APHRODITE (A Phase III Research Study of Female Sexual Dysfunction in Women on Testosterone Patch without Estrogen) yang dilakukan di 65 senter di Australia, Eropa, dan Amerika Utara, meneliti perempuan pasca menoause yang melaporkan mengalami penurunan libido yang dikarenakan personal distress.
Studi tersamar ganda dengan randomisasi ini mencakup 267 perempuan yang diobati dengan testosteron transdermal dengan dosis 150 Ug/hari, sedangkan 267 subyek diobati dengan testosteron 300 Ug/hari, dan 277 subyek lainnya mendapat plasebo. Patch ditempelkan pada bagian abdomen mereka sebanyak dua kali seminggu.
Pada minggu ke-24, peningkatan tingkat kepuasan seksual secara bermakna lebih besar pada kelompok testosteron dengan dosis 300 Ug/hari dibanding kelompok plasebo (2,1 kali vs. 0,7 kali, p
Kedua kelompok testosteron tersebut secara bermakna mengalami peningkatan skor kepuasan seksual dan penurunan personal distress. Meskipun peningkatan frekuensi kepuasan hubungan seksual tersebut bersifat sedang, tetapi tampaknya berarti secara klinik.
Efek androgenik yang paling nyata adalah bertambahnya pertumbuhan rambut pada kelompok yang mendapat dosis tinggi. Efek samping androgenik lain seperti akne, alopesia, suara menjadi berat, tidak menunjukkan perbedaan di antara kelompok-kelompok tersebut. Tidak ada perubahan secara klinis relevan pada kelompok manapun yang berhubungan dengan kadar lipid srum, metabolisme karbohidrat, maupun fungsi hati.
Yang cukup mengkhawatirkan adalah ditemukannya diagnosis kanker payudara pada 4 subyek pada kelompok testosteron. Satu subyek menunjukkan sekret berdarah pada payudaranya dan satu lagi didiagnosis setelah 4 bulan pengobatan, sedangkan dua kasus lainnya didiagnosis setelah 52 minggu dan 104 minggu pengobatan.
Para peneliti menyatakan diperlukan tambahan data untuk memastikan keamanan penggunaan testosteron jangka panjang pada perempuan dengan deplesi estrogen.
Sumber: New England Journal of Medicine 2008; 359: 2005-2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar